Perselingkuhan di Bawah Atap yang Sama | Berbagi Kenikmatan Dengan Ibu Mertuaku
Aku masih ingat betul hari itu, tanggal 17 Juni tahun lalu. Langit mendung tebal, jalan tol Cipali sedang ramai kendaraan mudik. Aku mengemudikan Avanza putih milik mertuaku, sementara ibu mertuaku — yang biasa kupanggil Bu RT — duduk di kursi penumpang depan. Istriku, Dinda, memilih naik kereta lebih dulu bersama anak karena katanya “lebih nyaman buat si kecil”.
Awalnya semuanya biasa saja. Kami ngobrol ringan soal harga beras, tetangga yang baru pindah, rencana renovasi rumah di kampung. Tapi suasana berubah pelan-pelan setelah istirahat di rest area KM 101.
Bu RT turun buang air kecil. Saat kembali ke mobil, rok batiknya agak naik sedikit karena tergesa-gesa naik ke mobil. Aku tidak sengaja melirik — dan mataku tertahan di paha mulusnya yang putih kekuningan, masih kencang meski usianya sudah 52 tahun. Dia sadar aku melihat. Dia tidak buru-buru menurunkan roknya. Malah dia tersenyum kecil, mata kami bertemu lewat kaca spion tengah.
“Mas… capek ya nyetir?” tanyanya lembut, suaranya agak serak khas orang Jawa tengah.
“Enggak kok, Bu. Masih kuat,” jawabku sambil menelan ludah.
Dia menggeser posisi duduk, kini kakinya agak terbuka. Aku pura-pura fokus ke jalan, tapi tangan kananku yang tadinya di setir perlahan turun ke tuas persneling — lalu tanpa sengaja (atau sengaja?) menyentuh paha kirinya.
Dia tidak menepis.
Malah dia membuka kakinya sedikit lebih lebar.
Saat itu aku tahu: malam ini akan berbeda.
Kami berhenti di rest area kedua, sekitar jam setengah sepuluh malam. Parkir di pojok paling belakang, dekat pohon besar yang gelap. Lampu rest area jauh. Hujan mulai gerimis.
“Mas… panas ya di dalam,” katanya sambil membuka dua kancing atas kebaya brokatnya. Dadanya yang masih penuh terlihat samar-samar di balik bra hitam renda.
Aku mematikan mesin. Kabin mobil langsung hening, hanya suara hujan dan napas kami yang mulai cepat.
“Bu… ini salah,” kataku, suara bergetar.
“Iya… salah sekali,” jawabnya sambil menatapku dalam. “Tapi kenapa rasanya enggak salah ya, Mas?”
Dia yang duluan bergerak. Tangannya meraih tanganku, membawanya ke dadanya. Aku merasakan detak jantungnya yang kencang di balik bra. Putingnya sudah mengeras menekan telapak tanganku.
Aku menyerah.
Kami berciuman di kursi depan, kasar, lapar, seperti orang kelaparan bertahun-tahun. Lidahnya lincah, menggoda lidahku. Tangan kiriku meremas payudaranya, tangan kananku menyusup ke bawah rok batik, menemukan celana dalam katun yang sudah basah di bagian tengah.
“Mas… jangan di sini… nanti ketahuan,” bisiknya, tapi tangannya malah membuka resleting celanaku.
Aku menarik kursi penumpang paling belakang. Dia naik ke pangkuanku, roknya tersingkap sampai pinggang. Aku menurunkan celana dalamnya sampai mata kaki. Penis ku sudah keras sekali, kepalanya basah oleh cairan pra-ejakulasi.
Dia memegang batangku, mengarahkannya ke lubang vaginanya yang licin dan panas. Lalu dia menurunkan pinggulnya perlahan.
“Ahhh… Mas… besar sekali…” desahnya sambil memejamkan mata.
Aku merasakan dinding vaginanya yang hangat membungkusku rapat. Meski sudah melahirkan tiga anak, vaginanya masih kencang, masih bisa menggigit. Mungkin karena jarang disentuh akhir-akhir ini — Om RT sudah lama sakit-sakitan dan jarang bisa meladeni.
Kami bergerak pelan dulu, takut mobil bergoyang terlalu keras. Tapi lama-lama nafsu mengalahkan akal sehat. Aku menyetubuhi ibu mertuaku dengan ritme semakin cepat, tanganku meremas bokongnya yang bulat penuh, jari-jariku menyentuh lubang anusnya yang mengerut.
“Mas… keluar di dalam saja… Ibu mau ngerasain panasnya…” pintanya dengan suara memelas.
Aku tidak bisa menahan lagi. Beberapa dorongan terakhir, aku menyemprotkan spermaku dalam-dalam ke rahimnya. Dia menjerit pelan, tubuhnya menggigil, vaginanya berkedut-kedut menjepit penis ku sampai tetes terakhir.
Kami diam beberapa menit, hanya saling memeluk, napas tersengal. Sperma ku mulai meleleh keluar dari vaginanya, membasahi pahaku.
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Di rumah, setiap ada kesempatan kecil, kami curi-curi waktu.
Pagi hari saat Dinda masih mandi, Bu RT sering masuk ke dapur dengan daster tipis tanpa bra. Aku akan memeluknya dari belakang, tanganku meremas payudaranya, jari-jariku mencubit putingnya sampai mengeras. Kadang aku angkat daster belakangnya, menurunkan celana dalamnya sedikit, lalu memasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya yang sudah basah. Dia akan menggigit bibir bawahnya supaya tidak bersuara, sambil menggoyang pinggul pelan.
“Mas… cepat… Dinda bentar lagi keluar…” bisiknya.
Aku biasanya hanya memuaskannya dengan jari sampai dia orgasme kecil, lalu buru-buru mencuci tangan sebelum Dinda keluar dari kamar mandi.
Kadang malam hari, saat Dinda lembur di kantor, Bu RT akan datang ke kamar tamu tempat aku tidur (kami pura-pura pisah kamar supaya “lebih nyaman”). Dia akan naik ke atas ranjang, membuka daster, lalu duduk di wajahku. Aku menjilati vaginanya sampai banjir, lidahku bermain di klitorisnya yang sudah membengkak. Setelah dia orgasme dua kali, dia akan membungkuk, mengulum penis ku dalam-dalam sampai tenggorokannya, lalu naik ke atas dan menunggangiku sampai aku keluar di dalamnya lagi.
Pernah juga kami berhubungan di kamar mandi saat Dinda tidur siang. Bu RT pura-pura mau mandi, aku menyusul masuk. Air keran dibuka keras supaya suara kami tertutup. Aku menyetubuhinya berdiri dari belakang, tanganku menutup mulutnya supaya jeritannya tidak terdengar. Penis ku masuk-keluar dengan cepat, bunyi plak-plak kecil dari benturan bokongnya ke panggulku bercampur suara air. Saat aku hampir keluar, dia berbisik:
“Keluar di mulut Bu… Biar Bu telan semuanya…”
Aku menarik penis ku, dia berlutut, membuka mulut lebar. Aku menyemprotkan sperma hangat ke lidah dan tenggorokannya. Dia menelan semuanya, lalu menjilat kepala penis ku bersih sambil menatapku dengan mata penuh nafsu.
Kami tahu ini salah. Kami tahu ini dosa besar. Tapi justru rasa bersalah itu yang membuat semuanya terasa lebih nikmat.
Setiap kali Dinda memelukku di depan Bu RT, aku bisa merasakan tatapan Bu RT yang panas di punggungku. Setiap kali Bu RT memasak untuk kami bertiga, aku tahu di balik senyum manisnya tersimpan kenangan pagi tadi — saat mulutku baru saja menghabiskan cairannya di dapur.
Kami terus begini. Sampai sekarang.
Dan entah sampai kapan.
Yang jelas, setiap kali Dinda bilang “Ibu capek ya hari ini, istirahat aja di kamar”, mata kami saling bertemu sejenak.
Dan kami tahu, malam ini kami akan bercinta lagi.
Bagian Ke 2
Di balik suara gemericik air keran yang sengaja dibuka kencang, Bu RT menekan tubuhnya ke dinding ubin dingin, napasnya tersengal saat aku menyusup dari belakang, tanganku menutup mulutnya rapat-rapat agar desahannya tak lolos ke telinga Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi tadi pagi—setiap dorongan dalam-dalam terasa seperti bom waktu, vaginanya yang masih licin oleh sisa malam sebelumnya menjepitku semakin erat, sementara jam dinding di ruang tamu berdetak tak kenal ampun, menghitung mundur detik-detik sebelum istriku mulai bertanya-tanya kenapa mandi pagi ibunya begitu lama… dan kenapa aroma sabun mandi bercampur bau nafsu terlarang begitu pekat di udara.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)