Selingkuh dengan Ibu Mertua Saat Istri Sakit di Kamar | Istri Sakit, Ibu Mertua Membuka Diri
Aku masih ingat betul malam itu hujan deras di luar, suara air mengguyur genteng bercampur dengan batuk-batuk lemah yang keluar dari kamar tidur kami. Rina, istriku, sudah tiga hari demam tinggi. Dokter bilang tifus ringan, tapi cukup membuatnya lemas tak berdaya. Aku bolak-balik mengompres, memberi obat, membuatkan bubur — tapi tubuhnya tetap panas dan wajahnya pucat.
Ibu mertuaku, Bu Wulan, datang menginap sejak kemarin sore. Beliau memang tipe ibu yang langsung ambil alih dapur dan urusan rumah saat anaknya sakit. Usianya 52 tahun, tapi badannya masih kencang, pinggulnya lebar penuh, payudaranya besar dan berat meski sudah agak kendur. Rambutnya hitam panjang selalu disanggul rapi, kulitnya sawo matang mulus — jauh lebih mulus daripada kebanyakan perempuan seusianya.
Malam itu sekitar jam setengah dua belas, Rina akhirnya tertidur lelap setelah minum obat penurun panas dosis kuat. Aku keluar kamar pelan-pelan, mau ambil air di dapur. Begitu masuk ruang tamu, aku melihat Bu Wulan duduk di sofa panjang, memakai daster tipis warna biru muda yang agak ketat di bagian dada. Lampu temaram saja yang menyala.
“Masih belum tidur, Bu?” tanyaku pelan.
Beliau menoleh, matanya berkaca-kaca. “Ibu nggak bisa tidur, takut Rina kenapa-napa. Kamu juga belum tidur?”
Aku mengangguk, lalu duduk di sebelahnya — jaraknya agak dekat karena sofa memang sempit. Aroma minyak kayu putih dan parfum murah yang biasa dipakai ibu mertua tercium samar. Entah kenapa malam itu baunya terasa… menggoda.
Kami ngobrol pelan. Tentang Rina, tentang biaya rumah sakit kalau tambah parah, tentang masa kecil Rina yang bandel. Tiba-tiba Bu Wulan menarik napas panjang.
“Mas… makasih ya sudah sabar ngurus Rina. Ibu tahu ini berat buat kamu juga.”
Tangannya menyentuh punggung tanganku. Hangat. Lama.
Aku diam saja. Jantungku mulai berdegup kencang. Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak menarik tangan.
“Bu juga pasti capek,” kataku, suara agak serak. “Harusnya istirahat.”
“Ibu nggak apa-apa… yang penting Rina sembuh.”
Jari-jarinya mulai mengusap punggung tanganku pelan. Gerakan kecil, tapi terasa seperti listrik. Aku menoleh ke arahnya. Matanya menatapku — bukan tatapan ibu mertua biasa. Ada sesuatu yang lain di situ. Lapar. Kerinduan. Penyesalan. Campur aduk.
Aku tidak tahu siapa yang duluan bergerak. Mungkin aku, mungkin dia. Tiba-tiba bibir kami sudah bertemu. Ciuman pertama itu pendek, ragu-ragu. Tapi detik berikutnya sudah ganas. Lidahnya menyambut lidahku dengan lapar yang sudah lama terpendam. Tangannya langsung merenggut leherku, menarikku lebih dalam.
Kami berciuman seperti orang kelaparan. Aku merasakan payudaranya yang besar menekan dada, putingnya sudah mengeras menusuk kain daster tipis itu. Tanganku naik meremas payudaranya — berat, lembut, penuh. Beliau mendesah keras di dalam mulutku.
“Mas… jangan di sini…” bisiknya, tapi tangannya malah menarikku lebih erat.
“Rina tidur dalam obat,” jawabku serak. “Kita pelan-pelan saja.”
Aku menarik daster beliau ke atas. Tidak ada bra. Hanya celana dalam hitam polos yang sudah basah di bagian tengah. Aku menurunkan celana dalam itu sampai ke lutut. Bulu kemaluannya lebat, hitam, basah mengkilap. Jari tengahku langsung masuk — hangat, licin, menyedot. Beliau menggigit bibir bawahnya keras supaya tidak bersuara.
Aku membukakan pahanya lebar-lebar di sofa. Celanaku sudah kuturunkan setengah. Kontolku sudah keras sekali, urat-uratnya menonjol. Begitu ujungnya menyentuh bibir vaginanya yang basah, beliau langsung mengerang pelan.
“Masukin… pelan ya Mas…”
Aku dorong perlahan. Kepalanya masuk, lalu separuh batang. Vaginanya sempit, panas, berdenyut-denyut menyedotku masuk lebih dalam. Beliau menutup mulutnya sendiri dengan tangan supaya tidak teriak. Aku mulai menggerakkan pinggul pelan-pelan, keluar-masuk setengah batang dulu. Lama-lama semakin dalam sampai akhirnya habis masuk.
Kami bercinta di sofa ruang tamu itu dengan ritme pelan tapi dalam. Setiap dorongan aku rasakan dinding vaginanya berdenyut kuat. Payudaranya bergoyang-goyang setiap aku hentak. Putingnya coklat tua, besar, mengeras seperti batu. Aku menunduk mengisapnya keras sambil terus menggoyang.
“Mas… ahh… ibu mau keluar…” desahnya pelan.
Aku percepat gerakan. Bunyi basah ‘plek-plek-plek’ kecil terdengar setiap aku tarik-keluar. Beliau tiba-tiba menegang, pahanya mengunci pinggangku, tangannya mencengkeram bahuku kuat sekali. Aku merasakan vaginanya berkedut-kedut kuat, menyemprot cairan hangat membasahi pangkal kontolku.
Aku tidak tahan lagi. Beberapa hentakan lagi, aku keluar di dalam. Spermaku menyemprot berkali-kali, mengisi rongga vaginanya yang masih berdenyut. Kami berdua terdiam, napas tersengal, keringat bercucuran.
Malam itu adalah awalnya.
Sejak saat itu, rumah terasa berbeda.
Setiap Rina tidur siang atau terlelap karena obat, kami mencuri waktu. Kadang hanya berpelukan di dapur sambil aku meremas pantatnya dari belakang, kadang hanya ciuman panas di lorong saat Rina mandi. Kadang aku sengaja memeluk Bu Wulan dari belakang saat dia mencuci piring, kontolku yang sudah keras kutekan ke celah pantatnya sampai dia menggigit bibir dan memejamkan mata.
Yang paling sering adalah saat Rina mandi.
Pintu kamar mandi ditutup, suara air mengalir deras. Kami punya waktu 10–15 menit. Cukup.
Aku tarik Bu Wulan ke kamar Rina yang pintunya sengaja kami biarkan sedikit terbuka — supaya kalau Rina keluar tiba-tiba masih sempat berhenti. Beliau langsung naik ke atas ranjang anaknya sendiri, menyingkap daster, membuka pahanya lebar-lebar. Aku langsung menjilati kemaluannya yang sudah basah sebelum mandi selesai. Rasa asin-manis cairannya membanjiri lidahku. Beliau menekan kepalaku kuat-kuat sambil menggigit bantal supaya tidak bersuara.
Lalu aku naik, memasukkan kontolku dalam-dalam. Posisi misionaris, kadang doggy style dengan beliau merangkak di ranjang Rina. Kami bercinta cepat, keras, penuh nafsu terpendam. Setiap hentakan aku rasakan ranjang bergoyang pelan. Kadang spermaku ku keluarkan di dalam, kadang di payudaranya, kadang di mulutnya — beliau suka menelan sambil menatapku dengan mata penuh dosa dan kenikmatan.
Suatu siang, saat Rina tertidur pulas setelah makan siang, kami melakukannya di ruang tamu lagi — kali ini tanpa buru-buru. Aku menyuruhnya duduk di pangkuanku menghadap ke depan, membelakangiku. Daster diangkat sampai pinggang, celana dalam diturunkan. Aku masukkan dari belakang sambil tanganku meremas payudaranya dari belakang. Beliau menggoyang pinggulnya sendiri, naik-turun pelan sambil kepalanya terdongak menahan desahan.
“Mas… ibu jadi ketagihan…” bisiknya sambil menggoyang lebih cepat.
“Aku juga, Bu… aku nggak bisa berhenti mikirin ini…”
Kami orgasme hampir bersamaan. Aku semprotkan di dalam lagi, beliau menggigit lengan bajuku sendiri supaya tidak teriak.
Hari demi hari berlalu. Rina perlahan sembuh. Demamnya turun, tenaganya kembali. Tapi kebiasaan kami tidak berhenti.
Malah semakin sering. Semakin berani.
Sampai suatu malam Rina berkata sambil tersenyum lemah:
“Makasih ya Mas… makasih juga ke Ibu. Kalau nggak ada kalian berdua, aku nggak tahu gimana.”
Aku dan Bu Wulan saling pandang sekilas — hanya sepersekian detik. Tapi di mata kami sama-sama ada rasa bersalah… dan hasrat yang belum padam.
Dan malam itu, setelah Rina tertidur lagi, kami kembali bertemu di ruang tamu.
Kali ini tanpa kata-kata.
Hanya nafsu.
Hanya tubuh.
Hanya dosa yang kami bagi berdua dalam diam.
.jpg)
.jpg)
.jpg)